Mengapa gerakan Martin Luther ini disebut sebagai “protestanisme”?

Mengapa gerakan Martin Luther ini disebut sebagai “protestanisme”?

Jawaban

istilah “Protestanisme” merujuk kepada “surat protes” yang disampaikan oleh para pangeran Lutheran dalam menyikapi keputusan Diet Speyer tahun 1529 yang memberlakukan kembali Dekrit Worms, di mana isinya mengecam Martin Luther dan ajarannya sebagai heretik (sesat).

Pembahasan

Permasalahan Martin Luther dibahas sebanyak tiga kali oleh Imperial Diet bersama dengan Kaisar Karl V. Imperial Diet adalah dewan kekaisaran yang diisi para pangeran yang menjadi subjek Kekaisaran Romawi Suci. Pertemuan Imperial Diet selalu diadakan di salah satu kota yang berstatus Imperial Free City, dan ketika membahas masalah kasus Martin Luther, dilakukan di Worms dan Speyer, yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Diet Worms (1521), pada pertemuan ini, Martin Luther diberi kesempatan untuk menarik 95 Tesisnya, namun ia menolak, dan pertemuan ini menghasilkan Dekrit Worms di mana Martin Luther menjadi buronan kekaisaran, Gereja juga mengekskomunikasi dan memvonis Martin Luther heretik (sesat).
  • Diet Speyer (1526), Karl V meminta agar para pangeran lebih tegas dalam melaksanakan Dekrit Worms. Karl V tidak bisa hadir dalam pertemuan ini dan diwakili saudaranya, Archduke Ferdinand. Dalam pertemuan ini, para pangeran pengikut Martin Luther (Lutheran) berani menyatakan keimanannya sebagai seorang Lutheran. Hasil dari pertemuan ini adalah “setiap negara dapat memerintah dan berkeyakinan, selama dapat dipertanggungjawabkan kepada Paus dan Kaisar”, yang menandai penangguhan Dekrit Worms.
  • Diet Speyer (1529), Karl V yang tidak bisa hadir diwakili oleh Archduke Ferdinand, Karl V berpesan agar Ferdinand mendamaikan kedua kubu yang berseteru, tapi pesan kaisar terlambat mencapai saudaranya. Ferdinand sendiri mengambil tindakan ekstrem dengan mengutuk para pangeran Lutheran yang secara serampangan menafsirkan hasil dari Diet Speyer (1526) sebagai sinyal untuk kebebasan beragama dan mewajibkan seluruh subjek Kekaisaran Romawi Suci agar tetap menganut Katolik. Para pangeran Lutheran kemudian menuliskan surat protes kepada Imperial Diet, yang kemudian membuat pihak-pihak yang pro dengan pemikiran Martin Luther disebut sebagai Protestanisme.
Baca Juga :  Keberagaman dalam masyarakat menjadi tantangan karena tumbuhnya perasaan kedaerahan dan kesukuan yang berlebihan, dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu upaya meningkatkan kerukunan antar suku, pemeluk agama, dan kelompok-kelompok sosial lainnya dapat dilakukan melalui ...

Dengan demikian, istilah “Protestanisme” merujuk kepada “surat protes” yang disampaikan oleh para pangeran Lutheran dalam menyikapi keputusan Diet Speyer tahun 1529 yang memberlakukan kembali Dekrit Worms, di mana isinya mengecam Martin Luther dan ajarannya sebagai heretik (sesat).

Leave a Comment